Selasa, 28 Februari 2012

Pemanfaatan Ruang di Bawah Tangga

 Tangga merupakan akses sirkulasi vertikal di dalam bangunan yang menghubungkan lantai bawah dan lantai di atasnya. Dahulu, tangga seringkali hanya berbentuk konvensional yang acapkali dianggap menghabiskan lahan di dalam rumah. Di sebelah bawah tangga, ruang yang tersisa seringkali dibiarkan kosong sebagai ruang mati tanpa fungsi dan aktivitas. Sementara di sebelah atasnya tidak dapat dijadikan ruang dengan aktivitas karena berbentuk void.


Saat ini, tangga dapat menjadi pojok inspiratif di dalam rumah. Fungsi bahkan aktivitas dapat dilakukan dengan memanfaatkan ruang sisa di bawah tangga. Berbagai ide unik untuk mempercantik tangga diaplikasikan dalam berbagai rumah.
Sementara itu, desain tangga sebagai jalur aktivitas naik turunnya pengguna bangunan harus memiliki berbagai aspek keamanan, kemudahan, dan ergonomi, sebagai berikut:
·         Material yang digunakan hendaknya material yang kuat, kokoh, dan tahan lama, seperti bahan kayu, beton, besi, maupun baja. Pertimbangan memilih material juga terkait dengan beban tangga tersebut.
·         Tangga yang memiliki lebih dari 20 anak tangga wajib memiliki bordes sebagai tempat istirahat penggunanya. Bordes juga dapat digunakan untuk anak tangga yang lebih sedikit, asalkan jumlah dan peletakannya optimal.
·         Dimensi pada tinggi anak tangga sekitar 15 – 17,5 cm dengan lebar antara 25 – 30 cm.
·         Penempatan handrail di sisi tangga diperlukan untuk menunjang keamanan. Ketinggian handrail tangga yang optimal sekitar 100 cm.
·         Gunakan step nosing di sudut anak tangga untuk menghindari selip karena licin dan sudut yang tajam. Step nosing biasanya terbuat dari karet, kayu, maupun keramik.
·         Material yang digunakan hendaknya dikombinasikan agar senada dengan konsep desain interior yang diusung.

 Ruang bawah tangga dapat digunakan sebagai lokasi cabinet built-in yang dapat menyimpan beragam aksesori, seperti: bingkai foto, susunan buku, medali penghargaan, ataupun pernak-pernik lainnya. Bentuk tangga yang menunjang adanya cabinet built-in di bawahnya adalah bentuk L dan I. Penggunaan cahaya lampu yang cukup dapat menjadikan sudut ruang ini menarik. Jika ruangan di bawah tangga dibiarkan kosong, kemungkinan anak-anak yang bermain di bawahnya dan terbentur tangga akan lebih besar. Karena itu pemanfaatan ruang di bawah tangga, selain memanfaatkan ruang juga sebagai pendukung faktor keamanan.

 Ruang bawah tangga juga dapat dimanfaatkan sebagai rak atau laci penyimpanan. Untuk ruangan yang lebih sempit, penempatan laci atau rak geser dapat menghemat luas ruangan. Rak atau laci ini bersifat masif, sehingga terkesan menyatu dengan tangganya. Ketika dibutuhkan, rak atau laci dapat digeser untuk mengambil keperluan di dalamnya. Berbeda dengan cabinet built-in sebelumnya, rak geser ini bukan merupakan lemari transparan dengan fungsi untuk pajangan ornamen. Dengan demikian, tidak perlu ruang yang luas di depan rak geser, karena fungsinya akan berlangsung hanya saat rak dibuka-tutup.

Ruang kerja dengan perangkat komputer, meja, dan kursi yang tidak berukuran besar juga dapat memanfaatkan area bawah tangga sebagai lokasinya. Beberapa perlengkapan kantor seperti notes dan catatan dinding juga dapat disisipkan di area ini agar mudah dijangkau oleh pemilik rumah ketika dibutuhkan. Agar potongan bawah tangga tidak memberi kesan menekan ruang di bawahnya, permainan cahaya lampu dan penempatan tumbuhan dalam pot di sisi meja dapat dijadikan solusinya.

Toilet juga dapat dijadikan alternatif pemanfaatan lahan di bawah tangga.  Perlu diperhatikan, ruang bawah tangga bukanlah ruang yang luas, karena itu toilet hendaknya hanya menyediakan wastafel dan closet. Toilet ini bukan untuk aktivitas mandi. Bentuk atap kamar mandi dengan potongan yang miring sebagai hasil pemanfaatan bawah tangga seringkali terkesan menekan. Permainan cahaya lampu yang tepat dan penggunaan warna-warna yang cerah dapat memberikan kesan yang lebih luas dari ukuran sebenarnya, sehingga pengguna tidak merasa takut berada dalam ruang yang sempit.

Jika tidak menginginkan aktivitas apapun yang terjadi di bawah tangga, namun tetap ingin memanfaatkan ruang tersebut, gudang dapat menjadi jawabannya. Siapkan ruang menyerupai lemari yang lebih besar, tentunya dengan desain yang tidak terlalu mencolok, maka barang-barang lama yang sudah tidak terpakai dapat ditaruh dengan aman di bawah tangga. Penting untuk diperhatikan adalah menyiasati ruang tersebut agar tidak menjadi rumah bagi hewan-hewan seperti tikus. Aktivitas yang sangat minim membuat gudang sangat jarang untuk diakses, sehingga pemilihan bahan dan desain yang tepat diharapkan dapat mengurangi kemungkinan ruuangan dijadikan rumah oleh hewan-hewan yang tidak diinginkan.

staircase with a lateral stringers metal frame and wood steps Staircase Design with a double buffer
Untuk pemanfaatan yang lebih santai, ruang bawah tangga dapat digunakan sebagai ruang duduk. Namun, pemanfaatan ruang seperti ini hanya berlaku bagi rumah yang memiliki lahan yang luas. Jika ruang bawah tangga yang diinginkan hanya sebagai kebutuhan sekunder, maka desain tangganya pun harus lebih ringan. Celah pada tangga memungkinkan intensitas cahaya masuk, sehingga dapat menerangi ruang bawah tangga. Oleh karena itu, jika menginginkan desain bawah tangga yang sederhana dengan kebutuhan yang tidak terlalu pokok, desain tangga masif perlu dihindari.

Meski area bawah tangga dapat dimanfaatkan dalam beragam fungsi dan aktivitas, namun banyak pihak menganggap aspek psikologis di bawah tangga memberikan kesan negatif. Ruang bawah tangga dianggap ruangan yang tertekan oleh beban di atasnya, sehingga perasaan seperti ketakutan dan kekhawatiran selalu muncul pada aktivitas di bawahnya. Aspek psikologis desain interior menganggap bahwa pemanfaatan ruang bawah tangga sebagai tempat penyimpanan lebih tepat ketimbang ruang dengan aktivitas.

♥ ♡♥ ♡ nanamorina

0 komentar:

Poskan Komentar

 
Copyright © Diary nanamorina | Theme by BloggerThemes & frostpress | Sponsored by BB Blogging